Gado-Gado

Subtitle

GADO-GADO CAMPUR IS HERE...

SWEET BETRAYAL



Kala itu, di waktu yang tak terduga, hanya sebatas menghabiskan waktu untuk menjelang pergi ke sebuah mall perbelanjaan.


Tiba-tiba tangan yang iseng ini menggapai Gadget pasangan hidupku, yang baru saja 2-3 bulan ini mendampingiku di tempat kos baru kami. Dan tiada kusangkakan, sedikitpun tidak, aku membaca socmed nya dengan         "Si-******" - (yang adalah mantan teman sekerjanya), kata-kata nya yang meminta "cium", sekalipun tak terbalas, sontak serasa jantung ini seakan berhenti berdetak, nafas ini enggan menyambung dengan nafas yang lain, rasa sakit itu semakin mendalam terasa, aku bingung harus berbuat apa, aku hanya memalingkan tubuh darinya, aku hanya terdiam, anganku terbang kemana-mana, dan aku tak tau harus mengambil keputusan apa, yang aku tau saat itu hanya ada kesal yang mendalam.


Entah aku berpikir untuk hidup sendiri tanpa lelaki, atau apa, aku tak tau, setauku semua jadi kacau, dia yang dulu telah beroleh kepercayaan dariku untuk mendapatkan kasih dan cintaku, kini seolah membiarkan aku melepaskan kepercayaan itu. 


Aku yang sejak lama memiliki ketakutan akan adanya Betrayal, kini aku mengalaminya di saat pernikahanku baru seumur jagung, aku tak berharap melepaskan diriku dari tanggung jawab dan komitmen besarku ini, aku hanya tak tau apa yang akan terjadi di depanku nanti.


Untuk curhat pada siapa selain pada Sang Pemilik Kehidupan, dimana dihadapanNYA kami telah berjanji tuk sehidup semati. Menjelaskan pada Orang Tua kami masing-masingpun tak ada gunanya selain hanya menambah deretan luka mereka. aku hanya bisa bersyukur atas semua yang terjadi ini. 


Kini adalah kini, tapi masa lalu itu susah tuk kulupakan, bukan diri ini menolak untuk "Move-On", tapi di otak ini merasakan perbedaan antara "Move-On" dengan "Proses Penjeraan".


Entah yang aku lakukan ini benar atau tidak, aku tak peduli, yang aku pedulikan hanya satu, Tidak ada Pengkhianatan lagi, namun jika itu sulit tuk dicapai, maka, aku yang akan undur, karena aku mudah patah.


Ini beberapa sms di hari ini darinya:


"Kalau dirimu sudah tak mau menyayangiku lagi, 

Aku memang tak pantas mendapatkan sayang itu darimu, 

Aku akan tetap menyayangimu, 

Sekarang aku tak tau harus bagaimana lagi, 

Mungkin sejuta untaian maafku tak bisa kau terima, & Aku terima itu, Baik-baiklah kau, sayang.. 

Jangan Sakit.. 

Aku sangat dalam menyayangimu.. 

Maafkanlah aku yang selama ini tak bisa menyenangkanmu.. 

Love you so much, my honey sweety beary-beary.. Muach..".


"Kalau kau benar-benar tak mau denganku lagi, 

Katakan saja, tak mengapa,

Aku akan pergi menjauh dari hidupmu..

Hidupku itu adalah kau..

Jika kau sudah tak mau lagi denganku, 

Itu sama saja kau akhiri hidupku..

Kalau kau tak mau membalas dan memberi jawab, 

Itu berarti kau memang tak mau denganku lagi..

Kalau memang itu maumu, aku akan pergi dari hidupmu..

Terimakasih..

Love You now & forever even you don't love me anymore..

I Love You very much..

Thanks for all.."



Dari kedua SMS itu, aku menjawabnya dengan 1 SMS yang isinya hanya spasi saja, dengan maksud, aku tak tau apa yang harus aku buat, semua nya menjadi kosong. Semua nya membuat aku lemah tak berdaya, Semua serba X dan Y, dimana aku tak tahu menahu mengenai masa depanku nanti.


Lelaki dalam benakku adalah manusia dengan predikat kurang dari C, dan kemudian aku bangga telah memiliki dia yang kukira memiliki predikat A+ di karakter, sekalipun tidak sama sekali dalam hal materi.

Namun kini serasa keadaan berubah, tak tau lagi apakah aku harus mempercayainya lagi, disentuhnyapun aku merasa tak berani. Kini aku menjadi tau seperti apa rasa yang dirasakan oleh ibunya terhadap bapaknya, sekalipun dengan kasus yang berbeda, namun rasa itu begitu kuat menyelimutiku saat ini.


Oh Tuhan, kenapa harus dia yang sangat menyayangiku, yang aku sangat perjuangkan di tengah keberadaaannya yang jauh dibawah garis nol itu, yang kemudian menyakitiku, hati kecil ku berteriak, "Teganya kau, padaku.." namun pikiranku berkata: "Bukankah laki-laki memang demikian?", terkadang aku teringat akan pesan sahabatku yang berkata: "You are so Naif". 


Entahlah...